07 Juli, 2008

RAKER TP KJM KABUPATEN SEKADAU




Kesehatan Jiwa (Mental Health) adalah kondisi mental sejahtera yg mungkinkan hidup harmonis & produktif sebagai bagian yang utuh dari kualitas hidup seseorang, dengan memperhatikan semua segi kehidupan manusia, dengan ciri menyadari sepenuhnya kemampuan dirinya, mampu menghadapi stres kehidupan yang wajar, mampu kerja produktif dan memenuhi kebutuhan hidupnya, dapat berperan serta dalam lingkungan hidup, menerima baik dengan apa yang ada pd dirinya, merasa nyaman bersama dengan orang lain







Sedangkan gangguan Jiwa (Mental Disorder) adalah perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan gangguan pada fungsi jiwa, menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosialnya






Kesehatan Jiwa Masyarakat (Community Mental Health) adalah Konsep Kesehatan Jiwa Masyarakat yg merupakan suatu orientasi kesehatan jiwa yg mencakup semua kegiatan kesehatan jiwa, dilaksanakan di masyarakat dengan titik berat pada upaya promotif dan preventif tanpa melupakan upaya kuratif dan rehabilitatif




Dalam upaya meningkatkan cakupan program Kesehatan Jiwa di Kabupaten Sekadau serta mengavaluasi hasil kegiatan program tahun 2007 maka pada tanggal 25 Juni 2008 Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) mengadakan rapat kerja. Rapat yang bertempat di Ruang Serbaguna Sekretariat Daerah Kabupaten Sekadau dipimpin oleh Ibu Dominika selaku Ketua Seksi Yankes, Dinas Kesehatan Kabupaten Sekadau, dihadiri oleh Camat se-Kabupaten Sekadau, Kepala Puskesmas se-Kabupaten Sekadau, serta para pengelola program kesehatan jiwa di Puskesmas. Sebagai narasumber adalah drg. Harry, Kasi Yankessus Dinkes Prop Kalbar.








Penderita Gangguan Jiwa Kab. Sekadau Tahun 2007








Peserta Rapat Kerja TP-KJM







Yang ini bukan penderita gangguan jiwa, tapi anggota panitia pelaksana





Pelatihan Pengembangan Manajemen Kinerja Klinik


Sekadau – 26/06/08

Hasil penelitian Direktorat Pelayanan Keperawatan Depkes bersama WHO tentang pelayanan keperawatan dan kebidanan yang dilakukan pada tahun 2000 di Propinsi Kalimantan Timur, Sumatera Utara dan Sulawesi Utara, Jawa Barat dan DKI, menunjukkan gambaran sebagai berikut: 1).70,9% perawat dan bidan selama 3 tahun terakhir tidak pernah mengikuti pelatihan, 2).39,8% perawat dan bidan masih melakukan tugas-tugas non keperawatan, 3) 47,4% perawat dan bidan tidak memiliki uraian tugas secara tertulis dan 4) belum dikembangkan monitoring dan evaluasi kinerja perawat dan bidan secara khusus.


Berdasarkan kondisi tersebut dan dalam rangka mengembangkan profesionalisme perawat dan bidan, Direktorat Pelayanan Keperawatan bersama WHO dan UGM pada tahun 2001 mengembangkan suatu model peningkatan kinerja perawat dan bidan di puskesmas dan rumah sakit yang kemudian dikenal sebagai “Pengembangan Manajemen Kinerja” (PMK). Model ini telah diterapkan di Kabupaten Sleman (DIY), Kabupaten Magelang, Kabupaten Semarang dan Kabupaten Grobogan (Jawa Tengah), dan Kabupaten Tabanan (Bali). Dari hasil evaluasi yang dilakukan pada bulan Januari–Maret 2003 menunjukkan adanya peningkatan kinerja perawat dan bidan setelah mengikuti kegiatan PMK baik di rumah sakit maupun puskesmas.


PMK sangat berperan untuk tercapainya indikator SPM Kabupaten/Kota yang dilaksanakan oleh Perawat dan Bidan di sarana kesehatan, mengingat perawat dan bidan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dengan jumlah yang cukup besar (40 %) dari seluruh kategori tenaga kesehatan. Disamping itu PMK juga menunjang penerapan Kepmenkes RI No. 1239 tahun 2001 tentang registrasi dan praktik perawat serta Kepmenkes RI No. 900 tahun 2002 tentang registrasi dan praktik bidan khususnya dalam pelaksanaan tugas dan kewajiban perawat dan bidan dalam memberikan asuhan keperawatan dan kebidanan.


Dalam rangka mewujudkan terciptanya pelayanan profesional keperawatan dan Kebidanan tersebut maka Dinas Kesehatan Kabupaten Sekadau menyelenggarakan pelatihan Pengembangan Manajemen Kinerja Klinik bagi perawat dan bidan di Kabupaten Sekadau. Pelatihan dilaksanakan tanggal 26 – 27 Juni 2008 bertempat di Ruang Serbaguna Sekretariat Daerah Kabupaten Sekadau. Peserta pelatihan adalah Kepala Puskesmas, Perawat dan Bidan di Puskesmas dan Rumah Sakit. Sedangkan fasilitator pelatihan adalah ibu Windiyati, S.SI.T.MKes dari Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Barat.


Tujuan


Tujuan Umum:

Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dan kebidanan di sarana/institusi pelayanan kesehatan.

Tujuan Khusus :

a. Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan perawat dan bidan;

b. Meningkatnya kepatuhan penggunaan standar dalam melakukan pelayanan keperawatan dan kebidanan;

c. Meningkatnya kemampuan manajerial pelayanan keperawatan dan kebidanan;

d. Meningkatnya pelaksanaan monitoring kinerja perawat dan bidan berdasarkan indikator kinerja yang disepakati;

e. Meningkatnya kegiatan diskusi refleksi kasus (DRK) keperawatan dan kebidanan;

f. Meningkatnya mutu asuhan keperawatan dan kebidanan;

g. Meningkatnya kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan dan kebidanan;


Di akhir sesi pelatihan, semua Puskesmas diminta untuk membuat Remcana Tindak Lanjut dengan penekanan pada pelaksanaan manajemen kinerja klinik bagi perawat dan bidan di semua Puskesmas yang ada di Kabupaten Sekadau selambat-lambatnya September 2008.
Semoga semua rencana dapat dilaksanakan. Amin


Berikut adalah foto-foto kegiatan selama dua hari pelatihan.





Ibu Windiyati, S.SI.T.MKes fasilitator utama pelatihan





Para Kepala Puskesmas se-Kabupaten Sekadau



Diskusi kelompok



Pembahasan hasil diskusi kelompok





16 Juni, 2008

Timor Leste Studi Banding Ke Sungai Ayak

Sungai Ayak (11/06/2008)
Adalah suatu kehormatan bagi Puskesmas Sungai Ayak dimana pada 11 Juni 2008 telah menerima tamu dari Timor Leste. Kunjungan rombongan dari Timor Leste yang terdiri dari 5 orang tersebut adalah dalam rangka studi banding program imunisasi, khususnya pelaksanaan skrining dan TT WUS di Kecamatan Belitang Hilir, Kabupaten Sekadau. Ikut mendampingi rombongan tamu ibu Semkarita dari Subdin Imunisasi Depkes RI, Bapak Nur Achmadi dari Dinkes Prop Kalbar, Bpk Bruno dan Bpk Yohanes Bayen dari Dinkes Kabupaten Sekadau.
Setibanya di Sungai Ayak pada pukul 10.00 WIB, rombongan yang keseluruhannya berjumlah 11 orang, langsung menuju lokasi peninjauan menggunakan ojek. Menempuh perjalanan sekitar 35 menit ke Desa Tapang Pulau yang berjarak kurang lebih 16 km dari Sungai Ayak. Beruntunglah cuaca cukup bersahabat sehingga perjalanan lancar sampai di tujuan. Di Posyandu Matahari, desa Tapang Pulau, para petugas dari Puskesmas Sungai Ayak beserta Kader Posyandu sudah menunggu. Demikian pula para WUS yang akan diskrining dan diimunisasi sudah banyak yang hadir. Tak ketinggalan, rombongan ini disambut oleh Kades Tapang Pulau beserta perangkat desanya, unsur muspika Belitang Hilir seperti Camat, Kepolisian, dan Koramil, serta satu orang anggota DPRD Kabupaten Sekadau yaitu Bp. Muhammad dari Komisi C.
Peninjauan kegiatan dilakukan sampai pukul 12.00 WIB. Selanjutnya istirahat makan siang yang telah disiapkan oleh Kepala Desa Tapang Pulau. Jam 12.30 rombongan kembali ke Puskesmas Sungai Ayak untuk pertemuan singkat sebelum kembali lagi ke Sekadau.
Dalam pertemuan di Puskesmas Sungai Ayak seusai meninjau pelaksanaan skrining dan TT WUS di desa Tapang Pulau, Ibu Semkarita menyatakan kepuasannya. Secara umum, menurut ibu Semkarita, pelaksanaan kegiatan sudah cukup baik. Penataan meja pelayanan cukup memuaskan, tidak menyebabkan ibu-ibu (WUS) yang antri berdesakan. Hanya penanganan atau cara memasukkan kembali jarum suntik bekas ke tempat semula yang perlu diperhatikan. Safety box yang ada belum digunakan secara maksimal. Tercatat sebanyak 191 WUS diberi suntikan imunisasi hingga jam 12 siang, saat rombongan kembali ke Puskesmas Sungai Ayak.


Berikut adalah foto-foto selama kegiatan berlangsung.



Menunggu giliran diimunisasi

Sakit ? Sakit sedikit tidak apa agar bebas dari penyakit Tetanus

Wawancara dengan Kader Posyandu


Foto bersama kader dan petugas Puskesmas di Posyandu Tapang Pulau




Mr. Bayen & .... siapa ya ?



Ibu Semkarita dari Subdin Imunisasi Depkes, memberikan arahan dalam pertemuan di Puskesmas Sungai Ayak



Pemberian cendera mata dari Timor Leste kepada Pusekesmas Sungai Ayak


Foto bersama di depan Puskesmas Sungai Ayak



23 Mei, 2008

Visi dan Misi


VISI, MISI, STRATEGI DAN NILAI




Visi
Memandirikan masyarakat untuk hidup sehat

Misi

Membuat rakyat sehat


Strategi

  1. Mobilisasi sosial, menggerakkan, memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat

  2. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan berkualitas

  3. Meningkatkan Sistem Informasi Kesehatan, Surveilans, dan Monitoring Kesehatan

  4. Meningkatkan pendanaan kesehatan



    Nilai

    Departemen Kesehatan menjunjung tinggi nilai-nilai keberpihakan pada rakyat melalui kerjasama tim yang cepat dan tepat dengan integritas yang tinggi, transaparan dan akuntabel dalam mewujudkan visi memandirikan masyarakat untuk hidup sehat.

Tata Laksana Gizi Buruk

Tingkat Rumah Tangga



  • Ibu membawa anak untuk ditimbang di posyandu secara teratur setiap bulan untuk mengetahui pertumbuhan berat badannya
  • Ibu memberikan hanya ASI kepada bayi usia 0-4 bulan
  • Ibu tetap memberikan ASI kepada anak sampai usia 2 tahun
  • Ibu memberikan MP-ASI sesuai usia dan kondisi kesehatan anak sesuai anjuran pemberian makanan
  • Ibu memberikan makanan beraneka ragam bagi anggauta keluarga lainnya
  • Ibu segera memberitahukan pada petugas kesehatan/kader bila balita mengalami sakit atau gangguan pertumbuhan
  • Ibu menerapkan nasehat yang dianjurkan petugas

Tingkat Posyandu

  • Kader melakukan penimbangan balita setiap bulan di posyandu serta mencatat hasil penimbangan pada KMS
  • Kader memberikan nasehat pada orang tua balita untuk memberikan hanya ASI kepada bayi usia 0-4 bulan dan tetap memberikan ASI sampai usia 2 tahun
  • Kader memberikan penyuluhan pemberian MP-ASI sesuai dengan usia anak dan kondisi anak sesuai kartu nasehat ibu
  • Kader menganjurkan makanan beraneka ragam untuk anggauta keluarga lainnya
  • Bagi balita dengan berat badan tidak naik (“T”) diberikan penyuluhan gizi seimbang dan PMT Penyuluhan
  • Kader memberikan PMT-Pemulihan bagi balita dengan berat badan tidak naik 3 kali (“3T”) dan berat badan di bawah garis merah (BGM)
  • Kader merujuk balita ke puskesmas bila ditemukan gizi buruk dan penyakit penyerta lain
  • Kader melakukan kunjungan rumah untuk memantau perkembangan kesehatan balita


Pusat pemulihan Gizi (PPG)

PPG merupakan suatu tempat pelayanan gizi kepada masyarakat yang ada di desa dan dapat dikembangkan dari posyandu. Pelayanan gizi di PPG difokuskan pada pemberian makanan tambahan pemulihan bagi balita KEP. Penanganan PPG dilakukan oleh kelompok orang tua balita (5-9 balita) yang dibantu oleh kader untuk menyelenggarakan PMT Pemulihan anak balita.

Layanan yang dapat diberikan adalah :

  • Balita KEP berat/gizi buruk yang tidak menderita penyakit penyerta lain dapat dilayani di PPG
  • Kader memberikan penyuluhan gizi /kesehatan serta melakukan demonstrasi cara menyiapkan makanan untuk anak KEP berat/gizi buruk
  • Kader menimbang berat badan anak setiap 2 minggu sekali untuk memantau perubahan berat badan dan mencatat keadaan kesehatannya
  • Bila anak berat badan nya tidak naik atau tetap maka berikan penyuluhan gizi seimbang untuk dilaksanakan di rumah
  • Bila anak sakit dianjurkan untuk memeriksakan anaknya ke puskesmas
  • Apabila berat badan anak berada di pita warna kuning atau di bawah garis merah (BGM) pada KMS, kader memberikan PMT Pemulihan
  • Makanan tambahan diberikan dalam bentuk makanan jadi dan diberikan setiap hari.
  • Bila makanan tidak memungkinkan untuk dimakan bersama, makanan tersebut diberikan satu hari dalam bentuk matang selebihnya diberikan dalam bentuk bahan makanan mentah
  • Apabila berat badan anak berada di pita warna kuning pada KMS teruskan pemberian PMT pemulihan sampai 90 hari
  • Apabila setelah 90 hari, berat badan anak belum berada di pita warna hijau pada KMS kader merujuk anak ke puskesmas untuk mencari kemungkinan penyebab lain
  • Apabila berat badan anak berada di pita warna hijau pada KMS, kader menganjurkan pada ibu untuk mengikuti pelayanan di posyandu setiap bulan dan tetap melaksanakan anjuran gizi dan kesehatan yang telah diberikan
  • Ibu memperoleh penyuluhan gizi/kesehatan serta demontrasi cara menyiapkan makanan untuk anak KEP
  • Kader menganjurkan pada ibu untuk tetap melaksanakan nasehat yang diberikan tentang gizi dan kesehatan
  • Kader melakukan kunjungan rumah untuk memantau perkembangan kesehatan dan gizi anak


Puskesmas

  • Puskesmas menerima rujukan KEP Berat/Gizi buruk dari posyandu dalam wilayah kerjanya serta pasien pulang dari rawat inap di rumah sakit
  • Menyeleksi kasus dengan cara menimbang ulang dan dicek dengan Tabel BB/U Baku Median WHO-NCHS (lampiran 1)
  • Apabila ternyata berat badan anak berada di bawah garis merah (BGM) dianjurkan kembali ke PPG/posyandu untuk mendapatkan PMT pemulihan
  • Apabila anak dengan KEP berat/gizi buruk (BB <>
  • Tindakan yang dapat dilakukan di puskesmas pada anak KEP berat/ gizi buruk tanpa komplikasi
  1. · Memberikan penyuluhan gizi dan konseling diet KEP berat/Gizi buruk (dilakukan di pojok gizi)
  2. Melakukan pemeriksaan fisik dan pengobatan minimal 1 kali per minggu · Melakukan evaluasi pertumbuhan berat badan balita gizi buruk setiap dua minggu sekali
  3. Melakukan peragaan cara menyiapkan makanan untuk KEP berat/Gizi buruk
  4. Melakukan pencatatan dan pelaporan tentang perkembangan berat badan dan kemajuan asupan makanan
  5. Untuk keperluan data pemantauan gizi buruk di lapangan, posyandu, dan puskesmas diperlukan laporan segera jumlah balita KEP berat/gizi buruk ke Dinas kesehatan kabupaten/kota dalam 24 jam dengan menggunakan formulir W1 dan laporan mingguan dengan menggunakan formulir W2 (lampiran 2)
  • Apabila berat badan anak mulai naik, anak dapat dipulangkan dan dirujuk ke posyandu/PPG serta dianjurkan untuk pemantauan kesehatan setiap bulan sekali
  • Petugas kesehatan memberikan bimbingan terhadap kader untuk melakukan pemantauan keadaan balita pada saat kunjungan rumah

15 Mei, 2008

Mengenal Gizi Buruk

GIZI BURUK adalah keadaan kekurangan energi dan protein tingkat berat akibat kurang mengonsumsi makanan yang bergizi dan/atau menderita sakit dalam waktu lama. Itu ditandai dengan status gizi sangat kurus (menurut berat badan terhadap tinggi badan dan atau hasil pemeriksaan klinis menunjukkan gejala marasmus, kwashiorkor, atau marasmik kwashiorkor.



PENYEBAB GIZI BURUK







  1. Balita tidak mendapat ASI eksklusif (ASI saja) atau sudah mendapat makanan selain ASI sebelum umur 6 bulan


  2. Balita disapih sebelum umur 2 tahun


  3. Balita tidak mendapat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) pada umur 6 bulan atau lebih.


  4. MP-ASI kurang dan tidak bergizi


  5. Setelah umur 6 bulan balita jarang disusui


  6. Balita menderita sakit dalam waktu lama seperti diare, campak, TBC, batuk pilek


  7. Kebersihan lingkungan kurang dan kotor




TYPE DAN TANDA GIZI BURUK

Marasmus







  1. Anak sangat kurus


  2. Wajah seperti orang tua


  3. Cengeng dan rewel


  4. Rambut tipis, jarang, dan kusam


  5. Kulit keriput


  6. Tulang iga tampak jelas


  7. Pantat kendur dan keriput


  8. Perut cekung


Kwashiorkor







  1. Wajah bulat dan sembab


  2. Cengeng dan rewel


  3. Apatis


  4. Rambut tipis, warna rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit


  5. Kedua punggung kaki bengkak


  6. Bercak merah kehitaman di tungkai atau di pantat




Marasmik Kwashiorkor



Gabungan tanda-tanda marasmus dan kwashiorkor
AKIBAT GIZI BURUK
  1. Menyebabkan kematian bila tidak segera ditanggulangi oleh tenaga kesehatan
  2. Kurang cerdas
  3. Berat dan tinggi badan pada umur dewasa lebih rendah dari anak normal
  4. Sering sakit infeksi seperti batuk, pilek, diare, TBC, dan lain-lain

KONFIRMASI GIZI BURUK

Bila ditemukan balita yang dicurigai gizi buruk berasal dari rujukan kader atau masyarakat, segera lakukan :

  1. Penimbangan
  2. Pengukuran panjang/tinggi badan, dan atau pemeriksaan tanda klinis
  3. Pembandingan hasil pengukuran dengan Buku Rujukan Penilaian Status Gizi Menurut BB/TB
  4. Bila kategori BB/TB sangat kurus dan atau ditemukan satu atau lebih tanda klinis, maka balita ditetapkan gizi buruk.

PERAWATAN GIZI BURUK

Lihat Pedoman Tata Laksana Penanganan Gizi Buruk